Kado untuk Yusuf

Menunggu kedatangan Yusuf

13 November adalah HPL  yang diperoleh dari hasil USG terakhir. Hingga tanggal 10  November belum juga ada tanda-tanda Yusuf akan lahir ke dunia. Kemudian tanggal 11  November 2017 kami kembali mendatangi sang Bidan dan beliau memberikan waktu 1 minggu untuk menunggu kelahiran Yusuf, "adapun bila dalam seminggu belum juga ada tanda maka akan diambil alternatif lain", kata sang bidan. Mungkin maksud beliau akan operasi.

Dalam hati Umi berdo'a, "Ya Allah aku tak ingin operasi, aku ingin melahirkan normal, aku ingin merasakan apa yang dirasakan oleh ibuku ketika melahirkanku, aku ingin menjadi ibu seutuhnya, aku ingin merasakan apa yang dirasakan oleh para ibu di dunia."

Sesampainya di rumah, Umi terus berdo'a dan berusaha mencari aktivitas dan terusbergerak, berharap agar Yusuf segera mencari jalan untuk keluar. Tanggal  12 November. tepatnya di hari minggu pagi Umi melihat ada tanda, Umi langsung cerita ke Abi, dan Abi nyuruh Umi tanya ke Bidan, Umi pun langsung menghubungi Bidan tersebut, beliau mengatakan itu memang tanda, tapi masih ada satu hari lagi, maka ditunggu saja. Umi makin semangat untuk beraktivitas, Umi mengepel rumah dengan jongkok, Umi Mencangkul menanam sayur terong dan Cabai di pekarangan rumah sambil jongkok, begitulah sampai malam datang. Jam sembilan malam, Umi mulai merasa sakit yang rutin setengah jam sekali. Umi masih ingat waktu itu Umi dan Abi lagi nonton bareng sama Abi. Jam 11 malam Umi merasakan sakit yang bertambah-tambah. Hingga jam 1 dini hari Abi dan Umi memutuskan untuk pergi ke klinik, sesampainya di klinik sang perawat memeriksa Jalan lahir, katanya masih bukaan satu, dimana bukaan itu sampai 10, artinya Umi masih harus menunggu 9 bukaan lagi.


Setelah selesai melakukan pemeriksaaan, Umi kembali merasakan sakit, Umi dan Abi disuruh masuk ruang rawat inap. Ketika menahankan sakit, tangan Abi menjadi salah satu sasaran Umi, Umi memegang tangan Abi sekuat tenaga sampai tangan Abi memerah. Abi menatap Umi dengan tatapan iba, tapi Abi tak bisa berbuat apa-apa, Abi hanya bisa sesekali berkata, "sabar ya de!".


Detik demi detik berlangsung, Umi terus memeriksa jam di HP Abi, terkadang Umi kesal melihat Abi yang ketiduran dengan pulas sementara Umi merasakan sakit, sendirian tidak bisa memejamkan mata walau hanya 1 menit.


Malam itu Umi ingin sekali bisa tidur walau hanya 5 menit, tapi itu tak Umi dapati karena gerakan Yusuf dalam perut Umi menyuruh Umi untuk duduk, berdiri, jalan dan memegang sekuat tenaga pinggir tempat tidur.

Tepat pada jam 3, Umi tidak bisa membiarkan Abi tertidur pulas, Umi pun membangunkan Abi dan meminta Abi shalat tahajjud, mengaji dan do'ain Umi. Umi bolak-balik minta maaf ke Abi sambil menangis, Abi pun terus memberikan motivasi dan penguatan ke Umi agar tetap bersabar.

Jam 4 dini hari, Umi minta Abi membangunkan perawat untuk memeriksa kembali, ternyata dari jam 1 sampai jam 4 baru bukaan 2. Dalam hati Umi bergumam, "Ya Allah  selama 4 jam hanya bertambah 1 bukaan, sampai jam berapa aku harus menanggung rasa sakit ini".

Malam itu Umi mulai terbayang sama nenek yang telah melahirkan Umi, Umi merasakan penyesalan yang dalam terhadap semua kesalahan dan kenakalan Umi sama nenek selama ini. Umi tak sabar menunggu pagi hari tiba, Umi mau nelpon nenek di kampung, Umi mau minta maaf dari lubuk hati yang dalam.


Tepat jam enam pagi, Umi langsung menghubungi nenek, sambil menangis merang-raung Umi minta maaf  ke nenek. Terdengar dari kejauhan Nenek menyarankan Umi agar tetap sabar dan mendo'akan, "insya Allah akan selamat dan sehat yang sabar aja ya nang", kata nenek.

Abi pun mulai khawatir, dan menelpon semua bou agar mendo'akan Umi. Umi minta maaf kepada bou Yusuf semuanya. Untuk menghilangkan rasa sakit, Umi minta Abi untuk jalan-jalan ke pasar, sesampainya di pasar Sakit itu pun memuncak, Umi dan berhenti berjalan, Wajah Umi pucat, Umi memegang tangan Abi sekuat tenaga.

Umi dan Abi pun memutuskan untuk kembali ke klinik. Sesampainya di klinik Umi terus berjalan, duduk, berdiri, rasa sakit itu makin menjadi. Umi tak berhenti berdzikir meminta kekuatan dan pertolongan serta kemudahan dari Allah. Umi terus bertafakkur mencari hikmah di balik semua ini.

Terus memikirkan kuasa dan kasih sayang Allah. Ketika sakit memuncak, untuk menghibur, Umi teringat pada teman-teman Umi yang telah menikah bertahun-tahun tapi belum juga dikaruniai anak.

Umi bersyukur, dua bulan setelah bersama Abi, Bidan mengatakan Umi positif hamil dengan usia 7 minggu. Alhamdulillah juga, Abi senantiasa bersabar menemani Umi. Ini yang membuat Umi semakin bersabar menunggu Yusuf.

Jam 9 pagi Umi kembali meminta perawat untuk kembali memeriksa apakah waktunya masih lama, "sudah bukaan 7, tapi yang sabar ya ka, karena sakitnya sekarang belum seberapa dibanding dengan proses bukaan 8 sampai 10", kata si perawat. Umi disuruh untuk terus bergerak, jalan jongkok, Umi juga disuruh untuk terus berdzikir dan berdo'a. Waktu itu Umi berbisik pada Allah Yang telah mengamanahkan Yusuf pada Umi dan Abi, "Allah selamatkan aku dan anakku, aku masih ingin melahirkan anak yang banyak untuk ku didik menjadi Ulama, dan Mujahid di jalan-Mu dan selamatkanlah anakku ini mudah-mudahan dia nanti menjadi Agama yang Engkau Ridhai yaitu Islam."

Sesakit yang Umi rasakan, Umi tetap menginginkan kehadiran adik-adik Yusuf. Meski 50 tulang akan patah ketika melahirkan Yusuf nanti, Umi yakin, Allah masih menyisakan beribu-beribu tulang yang kuat untuk merawat dan membesarkan. yusuf kelak.

Pada jam 11 siang gerakan Yusuf semakin membuat Umi tak bisa diam, baring ke kiri sakit, baring ke kanan, berdiri duduk sakit, tidur tidak bisa, ngomong dengan Abi pun makin tak selera, serasa di pintu rahim itu sesuatu yang memaksa untuk membesar, yang ukurannya sekitar 5 cm harus bisa melewatkan kepala  Yusuf selebar  kurang lebih 12 cm.







Comments