Wahai diri, ketika Allah membatasi rezeki-Nya kepadamu, bukan berarti
Allah itu miskin, tapi sadarilah wahai diri Allah itu Maha Kaya, hanya
saja untuk saat ini engkau lebih layak menerima rezeki yang Allah
tetapkan ukurannya kepadamu. Oleh karenanya janganlah berkecil hati
dengan rezeki yang berlimpah yang dikaruniakan kepada orang di
sekitarmu, irilah kepada mereka yang kaya namun tetap dermawan, irilah
kepada mereka yang fakir namun selalu bersyukur, dan takutlah musibah yang akan menimpa dirimu jangan sampai engkau menjadi si miskin yang sombong, lupa bersyukur dan banyak mengeluh.
Wahai diri, ketika Allah menahan rezeki-Nya kepadamu, bukan karena
Allah kikir, tapi Allah lebih tahu dari sisi mana Dia harus menguji
hamba-Nya, Allah tak ingin melihatmu pergi begitu saja meninggalkanNya
ketika pintamu diijabah. Allah tak ingin melihat engkau melupakan-Nya
ketika kebutuhanmu dicukupkan, Allah lebih senang menyaksikan engkau
wahai diri, bersimpuh dihadapan-Nya, merundukkan diri, dan terus meminta
dan bergantung kepada-Nya. Do'a-do'amu, pengakuan atas lemahnya kamu,
dan pujian yang engkau tujukan kepada Allah telah mengguncang Arsy-Nya,
membuat Allah membanggakan engkau di antara makhluk-makhluk-Nya
(malaikat).
Wahai diri, ketika Allah mengambil sesuatu darimu, bukan karena Allah iri atau rakus, tapi Allah ingin menguji cintamu yang sesungguhnya, adakah engkau lebih mencintai ciptaannya atau yang menciptakannya.
Wahai diri, ketika Allah menunda sesuatu yang engkau hajatkan kepada-Nya, bukan karena Allah zalim, Tapi Allah hanya ingin melihat puncak kesabaran dan keistiqamahan kamu ketika meminta kepada-Nya, adakah engkau memiliki sifat bosan, atau adakah engkau meragu atas janji-Nya?
Wahai diri, ketika Allah memangjangkan umurmu bukan berarti Dia memberi kesempatan bagimu untuk berangan-angan yang panjang pada dunia, tapi sisa umur itu Allah berikan sebagai kesempatan bagimu memperbaiki amal-amalmu, menpesiapkan bekal untuk bertemu Rabb-Mu.
Wahai diri, mintalah selalu kepada Rabb-mu agar dikaruniakan jiwa yang seantiasa dilimpahi ketakwaan, jiwa yang senantiasa merasakan cahaya hidaya-Nya, jiwa yang senantiasa suci dan bersih dari menyekutukan dan mendurhakai-Nya.
Wahai diri, ketika Allah mengambil sesuatu darimu, bukan karena Allah iri atau rakus, tapi Allah ingin menguji cintamu yang sesungguhnya, adakah engkau lebih mencintai ciptaannya atau yang menciptakannya.
Wahai diri, ketika Allah menunda sesuatu yang engkau hajatkan kepada-Nya, bukan karena Allah zalim, Tapi Allah hanya ingin melihat puncak kesabaran dan keistiqamahan kamu ketika meminta kepada-Nya, adakah engkau memiliki sifat bosan, atau adakah engkau meragu atas janji-Nya?
Wahai diri, ketika Allah memangjangkan umurmu bukan berarti Dia memberi kesempatan bagimu untuk berangan-angan yang panjang pada dunia, tapi sisa umur itu Allah berikan sebagai kesempatan bagimu memperbaiki amal-amalmu, menpesiapkan bekal untuk bertemu Rabb-Mu.
Wahai diri, mintalah selalu kepada Rabb-mu agar dikaruniakan jiwa yang seantiasa dilimpahi ketakwaan, jiwa yang senantiasa merasakan cahaya hidaya-Nya, jiwa yang senantiasa suci dan bersih dari menyekutukan dan mendurhakai-Nya.
Comments