Aku dan PKS



          Ketika kaki harus melangkah menuju pulau seberang. Tidak ada sesiapa disana yang aku kenal saudara dekat atau saudara jauh. Tapi bukan berarti aku tak punya saudara sama sekali. Karena saudara seiman itu sejatinya  tak menuntut kenal wajah. Meski  belum pernah menginjakkan kaki disana, tapi aku yakin disana banyak insane berhati mulia, dan insyaAllah pertolongan-Nya akan selalu ada di setiap ayunan langkah. 

       Melalui mbah google, coba kusearching website PKS di kota nan sejuk dan dijuluki “Bandung Lautan Api”. Alhamdulillah tercantum CP PKS Coblong.

“Asw. Ustadz, saya kader dari medan, mau Hijrah ke Bandung, mohon bantuannya saya tidak punya kenalan di sana, mohon rekomendasikan akhwat untuk membantu saya”. Inilah pesan yang aku sampaikan.
Alhamdulillah dapat balasan, “silahkan hubungi nomor ini ………”. 
 “Ukhty, insyaAllah saya berangkat pukul 09.15 WIB, insyaAllah tiba di sana sekitar pukul 12.00 WIB, mohon bantuannya ukhti  jemput ane di Bandara”. Aku belum kenal wajahnya, setibanya ketemu udah langsung ngerepotin.
             Namun dalam bahasa persaudaraan, metode inilah yang dilakukan Rasulullah ketika ada sahabat yang berhijrah ke Madinah, sebagaimana Salman Al Farisi menjadi sahabatnya Abud Darda.

             Lalu, alasan apa yang membuat aku tidak mencintai jama’ah ini. Bukankah di kala aku tak sanggup untuk melunasi uang kuliah yang sebentar lagi masuk batas pembayaran, jama’ah ini, jama’ah inilah yang membantuku, Mengajarkan aku bahwa aku tidak sendiri loh. Di mana pun aku berada, aku punya saudara loh. Apapun kesusahanku, aku masih punya Allah, dan Allah punya banyak tentara yang akan menolongku.
Di kota lautan api itu, aku tidak kenal siapa  lo, aku juga tak tahu jalan, dan aku tidak tahu kampus POLMAN itu dimana, aku tidak tahu di mana harus cari tempat tinggal. Tapi, jama’ah ini tak akan membiarkan aku tersesat, tak akan membiarkan aku menginap di tempat yang kurang terjamin keamanannya.
            PKS, ia memang partai, dan mungkin bagi  mereka yang tidak menyukai dunia politik agak sensi dengan jama’ah ini. Tapi tunggu dulu, ini bukan sekedar partai lho, ini sebuah jama’ah.  Jangan lihat ia dari kejauhan, tapi cobalah masuk ke dalamnya, cari tahu apa yang mereka lakukan disana.
Kami terima jika ada kritik pedas dari mana pun, iya, karena jama’ah ini juga berasal dari sekumpulan orang-orang  yang merindukan negeri   dimana islam benar-benar Rahmatan Lil alamin, Jama’h ini bukan jama’ah para malaikat yang bebas maksiat.

              Bagaimana mungkin aku ingin meninggalkan jama’ah ini, bukankah ia telah memberiku banyak ilmu dunia dan akhirat. Tak peduli di dunia mana aku tinggal, aku akan tetap merasakan punya keluarga ketika di sana ada berdiri bendera PKS. Aku tetap merasa punya sekolah yang setiap minggunya bisa aku kunjungi untuk memperoleh penguatan ruhiyah.
               Bagaimana mungkin aku ingin menolak ketika diajak kampanye menjelang PEMILU, karena yang kita lakukan bukan sekedar mempromosikan partai lo, tapi kita ini adalah momen bersilaturrahim, berbagi dan berdakwah. Momen mengenal saudara-saudara kita yang jauh disana, menyapa mereka, mencium tangannya, dan berusaha  memununculkan senyum kebahagian  di wajah mereka, ketika kesehatan mereka diperiksa dengan Cuma-Cuma (gratis), ketika ada pakaian bagus dan layak pakai harganya Cuma Rp.5.000,-, ketika ada sembako murah, ketika kami senam sehat bersama mereka. 

              Bagaimana mungkin aku keberatan ketika dikutip dana kampanye sebesar Rp. 50.000,- per orang. Karena kalau mau coba hituung-hitungan kontribusi yang diberikan jama’ah kepada kadernya jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan apa yang kami perbuat  padanya.
               Bukan jama’ah ini yang membutuhkan aku, tapi akulah yang membutuhkan jama’ah ini. Kalau aku memilih keluar, mungkin aka nada orang lain yang lebih baik yang akan menggantikan kepergianku.

                                                                                               
                                                                                                Sukabumi, 11 Februari 2014
                                                                                                Aidul Fitri Nasti

Comments