Hati Yang Gelisah

                 Kucoba menghitung hari-hari yang telah kulalui, lalu kucoba mengalkulasikan hari-hari yang kulewati bersamanya dengan hari-hari yang kulewati tanpa ada ia disampingku. Perih hati ini melihat hasilnya karena ternyata, aku lebih lama jauh darinya dibandingkan dengan hidup bersamanya. Peralihan masa remaja menuju dewasa kulalui tanpa ada ia bersamaku. Dan yang paling menyesakkan dadaku adalah, kini kulihat wajahnya mulai berkerut, tulangnya tak mulai rapuh, ia berjalan terseok-seok. Padahal, umurnya belum begitu tua. Tapi, aku tahu betul apa yang membuat tubuhnya seperti itu adalah karena selama hidup ia habiskan untuk bekerja keras, mencari nafkah untuk menyanggupi kebutuhan hidup dan dana pendidikan kami 3 orang anaknya.

             Berat hatiku ketika hendak meninggalkannya, setelah dua malam aku tidur bersamanya. Ia tidak begitu sehat, Jalannya tidak lagi normal. Kucoba tanyakan padanya, apakah aku boleh pulang, lalu ia menjawab, "Kalau kamu nggak pulang, bagaimana dengan kerjaan kamu, apakah tidak mengganggu, mamak nggak apa2 kok!"

Lalu, kutanyakan lagi sama kakak, apakah aku pulang atau tidak. Dia hanya menjawab, tanyakan saja hati nuranimu ?, inilah jawabannya. Sebenarnya yang menjadi bahan pertimbangan mengapa aku ragu untuk pulang ke perantauan adalah kondisi mamak yang tidak begitu sehat. Namun, tetap saja kuikuti langkah ini dan berkemas untuk pulang, seakan aku tak punya keraguan besar dalam diri. Padahal, hatiku masih penuh dengan tanda tanya, apa yang aku kejar untuk segera pulang ke sana? Dan, mengapa aku tidak tinggal selama 2 atau 3 hari menjaganya.

Comments