Bismillahirrahmanirrahim…….
Rabbi,
izinkan hamba menunaikan hajat saudara hamba untuk mendefininiskan kalimat “Insya Allah” yang berasal dari Engkau, dan Engkau wajibkan
kami mengucapkannya ketika kami hendak mengadakan sebuah hajat di masa yang
akan datang. Rabbi, Engkaulah dan Rasul-Mulah yang lebih mengetahui mengeapa
kami harus mengikrarkan kalimat “Insya Allah” di kala kami menjanjikan sesuatu
hal. Adapun ilmu yang kami pahami tentang hikmah dan defenisi dari “Insya
Allah” adalah kami peroleh dari para guru kami, ulama kami, syeikh kami, para
sahabat Rasul, dimana Sahabat Rasullah yang secara langsung memperoleh ilmu itu
dari Rasul-Mu. Rabbi, kalimat “Insya Allah” ini sangat-sangat sering kami
ikrarkan. Di kala kami mengadakan sebuah Janji. Rabbi, bila kalimat ini kami
ikrarkan dengan hati yang tidak khusu’, maka sesungguhnya kami adalah
hamba-hamba-Mu yang dhaif, hamba yang lemah, hamba yang penuh dosa dan noda.
Karenanya janganlah Engkau limpahkan murka-Mu atas diri kami yang telah
mempermainkan kalimat agung dari-Mu.
Rabbi, suatu waktu.. Engkau pertemukan hamba dengan
seorang hamba-Mu yang mulia akhlaknya, lembut kata-katanya, sejuk pandangan
matanya, damai hatinya dan teduh wajahnya. Dan di saat itu juga hamba berbisik
dalam hati, “Rabbi, izinkan hamba
menjadikan ia sebagai sahabat”. Engkau pertemukan kami dalam dekapan
tauhid, dalam pelukan islam, dalam selimut iman. Dalam lingkaran jama’ah, hari
demi hari kami lalui bersama, dalam ayunan langkah jalan dakwah ini kami lewati
bersama. Minimal seminggu sekali Engkau satukan hati-hati kami untuk meraih
cinta-Mu, menjemput ilmu dari-Mu. Di sela-sela kesibukan kami menuntut ilmu,
Engkau pertemukan kami dalam lingkaran musyawarah (Syura). Engkau kehendaki
kami dalam satu departemen yang membuat hati kami semakin berpadu.
Suatu masa, kami mendapati Rumah-Mu (Mushalla FT UNIMED)
dalam kondisi yang memperhatinkan, sampah di mana-mana, mukenah yang
berantakan, kamar mandi yang warna lantainya mulai berubah dari aslinya hingga
membuat kaki kami terkadang hampir terjatuh. Lalu hati kami terpanggil untuk
menyejukkan pandangan kami ketika memasuki Rumah-mu itu, hati kami tergerak
untuk membuat kenyamanan bagi orang yang ingin bertemu dengan Engkau. Lalu
suatu waktu hamba mengajak hamba-Mu yang kini menjadi saudara seperjuangan di
jalan dakwah. Hamba mengajak dia untuk sama-sama meraih ridha-Mu untuk segera
membersihkan rumah-Mu. Lalu ketika hamba memintanya untuk dating esok tepatnya
jam 5 sore sepulang kuliah, ia menjawab permintaan hamba dengan kalimat “Insya
Allah ukhty”. Dari kalimat itu hamba merasakan keyakinan bahwa ia sangat
sungguh-sungguh untuk memenuhi Permintaan hamba ini. Dan benarlah dugaan hamba,
bahwa berkat izin dari-Mu Rabbi, ia kami dating memenuhi panggilan-Mu untuk
membersihkan rumah-Mu hingga petang menjelang kami masih sibuk menggosok kamar
mandi dan membersihkan ruang sholat. Rabbi, mudah-mudahan kalimat “Insya Allah”
ini tidak pernah kami permainkan, tidak pernah kami salah gunakan untuk hal-hal
yang membebaskan kami untuk tidak menepati sebuah janji. Rabbi, hamba berharap,
hingga detik ini,, bahkan sampai di penghujung nafas ini tetap Engkau dapati
kami sebagai hamba yang istiqomah mengagungkan kalimat “Insya Allah”. Rabbi,
seiring berlalunya masa, seiring dengan menuanya raut wajah, semoga tetap
Engkau dapati kami sebagai hamba yang memegang tehuh kalimat mulia ini. Amin.
Rabbi, ternyata kalimat ini juga membuat hamba tetap
semangat untuk berjalan di atas jalan-Mu. Karena sahabat hamba, yang dulu kami
sering bersama, yang dulu kami sering tertawa, menangis, dan sama-sama
bermunajat kepada-Mu. Kini raga kami terpisah, kini jasad kami berjauhan. Namun
kami sangat berharap semoga do’a-do’a kami tetap terlantuntkan dengan penuh
harap Engkau akan mengabulkannya. Suatu waktu, di kala hati dilanda rindu,
hamba menyampaikan sebuah kalimat yang menyatakan “Ukhty, dulu ana pernah meminta sama Allah agar ukhty menjadi sahabat
ana, dan Alhamdulillah do’a hamba diijabah oleh-Nya, Ukhty, namun kini Engkau
telah pergi jauh dari pandangan ana, tak lagi ana dapati senyummu di lingkaran,
halaqah, tak lagi ana dapati ruhmu di setiap desah nafas ana. Kini Allah
memisahkan kita.” Lagi-lagi, Ia, sahabat yang Engkau pilihkan untuk hamba
mengumandangkan kalimat mulia itu dengan lafaz, “Insya Allah, suatu ketika nanti kita akan bertemu lagi.” Kalimat
ini membuat hamba tetap semangat mengharap terijabahnya do’a-do’a kami kepada
Sang Rabbuul Izzati. Dengan penuh keyakinan hamba selalu berharap bahwa kalimat
“Insya Allah itu akan mempertemukan kami kelak bila tidak di dunia mungkin di
akhirat kelak”.
Maka, tidaklah pantas rasanya, hamba berburuk sangka
kepada hamba-hamba-Mu yang rajin mengungkapkan kalimat “Insya Allah”. Karena
hambalah yang perlu menancapkan keyakinan dan baik sangka bahwa siapa pun
mereka yang mengucapkan kalimat ini maka keputusa finalnya tetaplah dari Allah
yang memiliki kalimat yang agung ini. Bila pun kalimat ini sengaja dipermainkan
oleh seorang hamba, maka Allah jualah yang kemudian memutuskan apakah suatu
hajat atau janji itu terpenuhi atau tidak.
Ya
Rabbi, semoga Engkau dapati kami semoga hamba yang senantiasa berbaik sangka
terhadap orang-orang yang melantunkan kalimat agung ini. Semoga Engkau dapati
kami sebagai hamba yang menjunjung tinggi makna dan penggunaan kalimat-Mu ini.
Semoga kami bukanlah hamba yang zalim atas diri kami, atas diri saudara kami,
kaum muslimin dan muslimat. Semoga Engkau Cabut keraguan dalam hati kami
terhadap orang-orang yang mengumandangkan kalimat ini. Rabbi, satukan hati-hati
kami dalam mengangungkan kalimat-kalimat indah nana gung dari-Mu. Amin ya Amin
Ya Rabbal ‘alamin.
Comments