……………………………Mati Dulu Baru Dicintai ………………….
Inilah kebiasaan buruk yang sering kita temukan dalam kehidupan . Sulit sekali bagi kita untuk mengungkapkan rasa sayang kepada orang yang masih hidup. Kita sering lupa atau mungkin tidak sadari seberapa besar pengaruh seseorang dalam kehidupan kita. Ketika mereka senantiasa ada dikala suka dan duka, kita merasa biasa-biasa saja. Dan ketika orang tersebut telah tiada barulah kita sadar betapa besar pengaruh orang tersebut dalam kehidupan kita, betapa besar rasa sayang yang kita pendam selama ini.
Bahkan yang sering terjadi adalah kita mengungkapkan rasa sayang yang kita pendam selama bertahun2 kepada seseorang yang telah tiada, tidak jarang juga kita berandai-andai pada orang yang telah menghilang dari kehidupan kita, (“andai si anu masih ada pasti sya tidak akan seperti ini, andai si anu masih hidup saya ingin sekali memberinya ini”) Sayang semuanya sudah terlambat, karena yang disayang telah tiada.
Kini hanya tinggal penyesalan, dan perasaan bersalah pun mengguncang jiwa : merasa bersalah karena belum memohon maaf padanya, merasa bersalah karena belum berterimakasih padanya, merasa bersalah karena belum membalas sms-nya, merasa bersalah karena sering mengabaikan telponnya, merasa bersalah karena belum sempat mengajaknya jalan2, merasa bersalah karena belum memberikan yang terbaik padanya, merasa bersalah karena masih punya hutang padanya, merasa bersalah karena tidak mengungkapkan rasa sayang padanya.
Saudara/iku mari mengubah kebiasaan buruk kita menjadi sebuah amalan yang dapat membahagiakan saudara/I kita. Bila memang sayang katakana sayang, bila memang cinta ya katakana cinta (kecuali untuk lawan jenis yang bukan mahram kita), jangan sampai yang disayang terlanjur pulang duluan ke hedapan ilahi. Bila memang ada salah silahkan minta maaf, bila memang ada utang silahkan dibayar (kalau sudah sanggup).
Saudara/iku… ini adalah sebuah pembelajaran yang pernah saya alami, suatu saat teman kos saya mengirimkan sebuah sms duka-cita berkedok “sekedar menguji kasih sayang saya padanya” yang isisnya menyatakan bahwa beliau sudah meninggal. Ketika sms tersebut menyusup masuk ke dalam layar hp saya, tiba2 degup jantung saya menjadi tidak normal, merasa kehilangan seseorang yang disayang, merasa diri banyak berbuat salah padanya, dan terlalu menyepelekan beliau. Dengan cucuran air mata beliau saya telpon balik, tapi sayang sungguh sayang nomornya sudah tidak aktif, mau menghubungi keluarganya, saya tidak tau nomornya. Kini perasaan saya semakin nggak karuan mau melayat, saya nggak tau alamat kampungnya.. wah… benar-benar mengalami kebingungan yang tiada tara. Hari terus berlalu, malam-malam yang saya lalui penuh dengan bayangan dirinya yang menurut saya sudah telah tiada, hingga 2 hari kemudian saya buka kembali sms tersebut dan saya periksa sampai layar paling bawah, hmmmmmmm dengan sedikit rasa kesal di dada saya temukan kalimat penutup bahwa ia pergi untuk sementara ke luar kota.
Tapi setelah kejadian tersebut Saya tidak marah kepada beliau, bahkan saya sangat senang dengan perlakuan tersebut karena ia menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan saya dan telah mengingatkan saya bahwa saya sangat menyayanginya. Dan perlakuan yang selama ini saya perbuat adalah bersikap jutek dan kurang peduli. Setelah berpisah saya jarang menyakan kabarnya dan saya sering nggak balas sms dia.
Beberapa tahun kemudia…. Saya terkenang dengan ulah teman saya ini. Dengan didukung oleh sisa bonus sms, jemari saya mulai menysusun kalimat rancu yang menjebak yang intinya “informasi kepergian saya ke Rahmat Allah” lalu sms tersebut saya kirim kepada orang2 yang saya sayangi, niat saya sederhana saja yaitu “saya ingin tau seberapa besar rasa sayang mereka pada saya” .
Ehh…. Belum semua terkirim, tiba2 hp saya mendapat calling bertubi2 dari mereka yang hp-nya mendapat berita jebakan dari saya. Saya pun bingung mau jawab apa, karena seharusnya setelah selesai nge-sms hpnya langsung dimatikan supaya tidak mendapat pertanyaan bertubi2 dari fans. Wkwkwkwkwkwk.
Tanpa berpikir panjang, saya menyuruh teman kos untuk menjawab telpon tersebut dan mengaku sebagai kakak saya, dengan sandiwara yang mantap teman kos saya ini mengangkat telpon dengan nada sedih dan pura2 menagis hingga membuat orang semakin percaya dan mengucapkan “Innalillah” atas kepergian saya. Mendengar ucapan tersbut, dada saya terasa sesak dan takut kalau2 kejadian itu benar2 terjadi. Bukan hanya telpon, hp saya juga penuh dengan sms turut berduka cita. Haduch….. niatnya dari awal hanya bercanda kini keadaan berubah menjadi tegang, bahkan informasi tersebut sampai ke keluarga dekat saya. Makin kacau dah permainan.
Kini aku diliputi oleh rasa bersalah. Apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur, kebetulan gulanya abiz pula jadi buburnya pun terasa hambar dan hidup saya kini harus siap menerima do’a2 kematian yang mereka sampaikan lewat sms…..
Untuk teman2 yang menganggap saya telah tiada..... Maafkan saya yaaaaa........
Inilah kebiasaan buruk yang sering kita temukan dalam kehidupan . Sulit sekali bagi kita untuk mengungkapkan rasa sayang kepada orang yang masih hidup. Kita sering lupa atau mungkin tidak sadari seberapa besar pengaruh seseorang dalam kehidupan kita. Ketika mereka senantiasa ada dikala suka dan duka, kita merasa biasa-biasa saja. Dan ketika orang tersebut telah tiada barulah kita sadar betapa besar pengaruh orang tersebut dalam kehidupan kita, betapa besar rasa sayang yang kita pendam selama ini.
Bahkan yang sering terjadi adalah kita mengungkapkan rasa sayang yang kita pendam selama bertahun2 kepada seseorang yang telah tiada, tidak jarang juga kita berandai-andai pada orang yang telah menghilang dari kehidupan kita, (“andai si anu masih ada pasti sya tidak akan seperti ini, andai si anu masih hidup saya ingin sekali memberinya ini”) Sayang semuanya sudah terlambat, karena yang disayang telah tiada.
Kini hanya tinggal penyesalan, dan perasaan bersalah pun mengguncang jiwa : merasa bersalah karena belum memohon maaf padanya, merasa bersalah karena belum berterimakasih padanya, merasa bersalah karena belum membalas sms-nya, merasa bersalah karena sering mengabaikan telponnya, merasa bersalah karena belum sempat mengajaknya jalan2, merasa bersalah karena belum memberikan yang terbaik padanya, merasa bersalah karena masih punya hutang padanya, merasa bersalah karena tidak mengungkapkan rasa sayang padanya.
Saudara/iku mari mengubah kebiasaan buruk kita menjadi sebuah amalan yang dapat membahagiakan saudara/I kita. Bila memang sayang katakana sayang, bila memang cinta ya katakana cinta (kecuali untuk lawan jenis yang bukan mahram kita), jangan sampai yang disayang terlanjur pulang duluan ke hedapan ilahi. Bila memang ada salah silahkan minta maaf, bila memang ada utang silahkan dibayar (kalau sudah sanggup).
Saudara/iku… ini adalah sebuah pembelajaran yang pernah saya alami, suatu saat teman kos saya mengirimkan sebuah sms duka-cita berkedok “sekedar menguji kasih sayang saya padanya” yang isisnya menyatakan bahwa beliau sudah meninggal. Ketika sms tersebut menyusup masuk ke dalam layar hp saya, tiba2 degup jantung saya menjadi tidak normal, merasa kehilangan seseorang yang disayang, merasa diri banyak berbuat salah padanya, dan terlalu menyepelekan beliau. Dengan cucuran air mata beliau saya telpon balik, tapi sayang sungguh sayang nomornya sudah tidak aktif, mau menghubungi keluarganya, saya tidak tau nomornya. Kini perasaan saya semakin nggak karuan mau melayat, saya nggak tau alamat kampungnya.. wah… benar-benar mengalami kebingungan yang tiada tara. Hari terus berlalu, malam-malam yang saya lalui penuh dengan bayangan dirinya yang menurut saya sudah telah tiada, hingga 2 hari kemudian saya buka kembali sms tersebut dan saya periksa sampai layar paling bawah, hmmmmmmm dengan sedikit rasa kesal di dada saya temukan kalimat penutup bahwa ia pergi untuk sementara ke luar kota.
Tapi setelah kejadian tersebut Saya tidak marah kepada beliau, bahkan saya sangat senang dengan perlakuan tersebut karena ia menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan saya dan telah mengingatkan saya bahwa saya sangat menyayanginya. Dan perlakuan yang selama ini saya perbuat adalah bersikap jutek dan kurang peduli. Setelah berpisah saya jarang menyakan kabarnya dan saya sering nggak balas sms dia.
Beberapa tahun kemudia…. Saya terkenang dengan ulah teman saya ini. Dengan didukung oleh sisa bonus sms, jemari saya mulai menysusun kalimat rancu yang menjebak yang intinya “informasi kepergian saya ke Rahmat Allah” lalu sms tersebut saya kirim kepada orang2 yang saya sayangi, niat saya sederhana saja yaitu “saya ingin tau seberapa besar rasa sayang mereka pada saya” .
Ehh…. Belum semua terkirim, tiba2 hp saya mendapat calling bertubi2 dari mereka yang hp-nya mendapat berita jebakan dari saya. Saya pun bingung mau jawab apa, karena seharusnya setelah selesai nge-sms hpnya langsung dimatikan supaya tidak mendapat pertanyaan bertubi2 dari fans. Wkwkwkwkwkwk.
Tanpa berpikir panjang, saya menyuruh teman kos untuk menjawab telpon tersebut dan mengaku sebagai kakak saya, dengan sandiwara yang mantap teman kos saya ini mengangkat telpon dengan nada sedih dan pura2 menagis hingga membuat orang semakin percaya dan mengucapkan “Innalillah” atas kepergian saya. Mendengar ucapan tersbut, dada saya terasa sesak dan takut kalau2 kejadian itu benar2 terjadi. Bukan hanya telpon, hp saya juga penuh dengan sms turut berduka cita. Haduch….. niatnya dari awal hanya bercanda kini keadaan berubah menjadi tegang, bahkan informasi tersebut sampai ke keluarga dekat saya. Makin kacau dah permainan.
Kini aku diliputi oleh rasa bersalah. Apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur, kebetulan gulanya abiz pula jadi buburnya pun terasa hambar dan hidup saya kini harus siap menerima do’a2 kematian yang mereka sampaikan lewat sms…..
Untuk teman2 yang menganggap saya telah tiada..... Maafkan saya yaaaaa........
Comments